Minggu, 18 Oktober 2009


SYAIR CINTA ARAB

http://3.bp.blogspot.com/_bGtb5OgYr8U/Si9gog0vxVI/AAAAAAAAABQ/BvcDWPJvsDE/s200/evening-sky.jpg

Aku mencintaimu….
Duhai yang telah mencuri hatiku
Duhai yang telah merubah hidupku
Duhai yang aku cintai melebihi dari setiap relung hatiku
Duhai yang telah menunt

unku kedunia khayalanku

Kekasihku….

Telah kuberikan ruhku dan hatiku kepadamu
Telah ketempatkan dirimu dalam relungku
Telah kugambar dirimu bersama dengan mimpiku

Kita berjanji, akan

sehidup semati
Mendajikan cinta kita melampaui khayalan ini
Disetiap tempat kita akan goreskan kisah cinta kita
Dan kita bersihkan hati kita dari sungai azab

Perpisahan itu telah mengh

antui mimpi-mimpi kita
Dan cinta kita mengantarkan kita kepada sebuah perpisahan
Dengan rintihan amarah yang menodai kesetiaan
Dan kisah cinta kita telah berubah menjadi cinta terlarang

Demikianlah akhir perjal

anan kita
Dan biarlah ia menjadi se

buah kenangan masalalu antara kita


Syair Cinta Rabi'ah

''Alangkah sedihnya perasaan yang dimabuk cinta
Hatinya terkapar karena menahan dahaga rindu
Cinta itu tetap dige

nggam, walau apa pun yang terjadi
Jika putus ia sambung lagi
Liku-liku cinta terkadang dapat menemukan syurga
Menemui pertemuan indah dan abadi
Tapi juga tidak jarang bertemu neraka
Dalam perjalanan yang tiada pedoman.''



SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 1



http://3.bp.blogspot.com/_fuGe0doDzz4/SirJwj44WXI/AAAAAAAAAMs/i6TCXCRYies/s200/burdahbusiri.jpg

Cinta Sang Kekasih

Apakah karena Mengingat Para kekasih di Dzi Salam.
Kau campurkan air mata di pipimu dengan darah.

Ataukah karena angin berhembus dari arah Kazhimah.
Dan kilat berkilau di lemba

h Idlam dalam gulita malam.

Mengapa bila kau tahan air matamu ia tetap basah.
Mengapa bila kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah.

Apakah sang kekasih kira bahwa tersembunyi cintanya.
Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora.

Jika bukan karena cinta ta

kkan kautangisi puing rumahnya.
Takkan kau bergadang untuk ingat pohon Ban dan ‘Alam.

Dapatkah kau pungkiri ci

nta, sedang air mata dan derita.
Telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta.

Kesedihanmu timbulkan dua garis tangis dan kurus lemah.
Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah.

Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga.
Tak hentinya cinta merindangi kenik

matan dengan derita.

Maafku untukmu wahai para pencaci gelora cintaku.
Seandainya kau bersikap adil takkan kau cela aku.

Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku.
Padahal tidakjuga kunjung sembuh penyakitku.

Begitu tulus nasihatmu tapi tak kudengar semu

anya.
Karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya.

Aku kira ubanku pun turu

t mencelaku.
Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.